Midnight—Poetry.

1:

Untuk sang puan, yang telah sudi melepaskan pelukan.

Biarkan saya menyapamu malam ini, walau rasanya akan sia-sia. Biarkan daksa ini kembali bersemanyam bersama atma dalam gelabah yang menghampar seribu ragu. Kasih, teori yang kamu ciptakan tidak pernah salah, hanya tuan ini yang tak mahir menafsirkannya.

Maaf, nabastala yang pernah dijanjikan selamanya—kini kehilangan payodanya.


2;

“Jika kamu memutuskan pergi, bagaimana jika suatu saat rindu menghampiri seolah ingin terus dipungkiri?”

Ketika kita terlelap, aku bisa menepikan rindu ini.”

“Bagaimana caranya?”

“Kamu, aku akan pergi ke kamu dalam tidurku.”

Karena kamu adalah fatamorgana, objek yang nyata namun terasa fana. Maka biarkan aku menyampaikan astu akan afsun dalam dirimu di shyam lelapku.


3;

Mengejar tanpa harap, bermimpi jua kian hirap. Apa kamu tidak ingin menghilang sejenak? Datanglah lain kali, agar nanti—kita bisa berhenti berlari.


4;

Every love poem is a prayer

Every prayer is a love poem

A world

within

a world

revealed

by dizzying layer

In your world

I am time traveler

Let me slide

back and forth

down the line

exploring perceptions

of my past and future lives

One day

I will make you

my home.


5;

Perihal apa?

Rasa yang kian menjadi lara?

Frasa yang kemudian menjadi bara?

Di setiap kebisingan, ia berusaha untuk bersua, tapi sia-sia. Saat pengkhianatan sudah di depan mata, ia berteriak meminta tolong dengan tubuh yang rimpuh, ingin dipapah walau sebentar lagi akan runtuh.

Dewi malam, tolong jadi saksi tentang bagaimana ia memutuskan untuk terlelap malam ini.


6;

TW // Raped

Gadis rupawan dengan tilikan netra redup sedang memperjuangkan haknya sebagai wanita. Digauli oleh lelaki brengsek yang tidak tahu malu dan tidak bertanggung jawab, membuat dia kehilangan masa depannya. Memperjuangkan haknya yang tak teradilkan di negeri bedebah ini, pelaku harus dihukum atas aksinya.

Harga diri, harga mati. Begitu pekik para aktivis. Derasnya tangis yang tak terbendung keluar dari netra sang gadis, membuat semuanya turut prihatin kepadanya. Dihujam banyak pertanyaan dan caci maki oleh banyak orang, desas-desus yang ada di sekitarnya, “pakaian ia yang enggak tertutup menjadi penyebabnya.”


7;

Kasih, bolehkah kutorehkan harapan ini agar kisah kita tak usai disini? Setidaknya, aku ingin mengantarmu sampai rumah terlebih dahulu.

Kasih, mungkin dadamu akan tercekat sebuah penyesalan, atau mungkin juga kamu ingin memutar waktu. Entahlah, kutitipkan saja padika ini pada pagar rumahmu, agar aku langsung dapat mendengar tutur jawaban dari lidah kelu milikmu. Lekaslah kembali, pada tempat yang selalu kamu sebut tambatan hati.


8;

Suatu sendu kian membiru. Membasuh silu pada nada-nada yang layu. Atma yang pilu, paksalah senyumanmu—agar kalbumu tak bertemu belenggu.


9;

Dari sini aku bertanya

Apa kabar Anindita-ku?

Bahagiakah dirimu bersama lintang di angkasa? Masihkah senyummu merekah indah seperti sang bunga?

Jiwa yang di sini masih selalu merindu sendu. Gelabah sekali karena tak dapat lagi mendengar tawa merdumu.

Teruna ini bertanya pada temaramnya rembulan malam;

Akankah ada lagi yang sepertimu?